Selasa, 17 Februari 2015

Berani Jujur Itu Hebat


Bacaan: Yohanes 1 : 19-28    |   Nyanyian: KJ 400: 3, 4.
“Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya Aku bukan mesias.” (ay. 20)

Yudhistira adalah salah satu tokoh pewayangan yang dikenal sebagai sosok jujur, adil, sabar dan memiliki spiritualitas tinggi. Sifat jujur yang dimilikinya begitu menonjol. Sehingga dia mendapat kesan tersendiri di hadapan para dewa. Demikian juga di hadapan para saudaranya, kejujuran yang dimiliki Yudhistira ini menjadikan dia dihargai dan dihormati.
Sulitkah bersikap jujur? Pertanyaan ini terasa begitu mudah, tetapi sulit untuk dijawab. Sepertinya tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa benar-benar jujur dan tidak berbohong sama sekali. Bahkan ada beberapa ungkapan yang mengatakan boleh tidak jujur asal demi kebaikan. Terasa aneh, apakah kebaikan harus diwujudkan dengan ketidakjujuran? Kebaikan seperti apa yang dihasilkan dari ketidakjujuran? Yang sering terjadi adalah demi kebaikan (keuntungan) pribadi, orang berkata tidak jujur.
Yohanes Pembabtis bisa saja tergoda saat dia dianggap sebagai mesias yang datang untuk menyelamatkan dunia. Seandainya dia mau berbohong, tentu tidak sedikit keuntungan yang dia dapatkan. Bukan hanya materi, tetapi mungkin juga kehormatan dan kekuasaan. Tetapi Yohanes Pembabtis masih bisa bersikap jujur. Dia tidak tergoda untuk tidak jujur demi materi, kehormatan atau kekuasaan. Dengan tegas dia mengatakan bahwa dia bukanlah mesias. Sebuah sikap yang patut kita renungkan dan kita teladani.
Mari melihat realita kehidupan kita saat ini. Sepertinya lebih mudah menemukan orang yang baik daripada orang jujur. Fatalnya lagi, orang yang berjuang menegakkan kebenaran dengan kejujuran dianggap sebagai orang yang tidak baik. Sebuah fenomena yang menyakitkan. Bahkan orang-orang yang berani jujur terkadang disingkirkan karena dianggap mengganggu. Bersikap jujur ternyata penuh resiko. Karena, kejujuran itu sebenarnya pahit untuk dirasakan. Dan tidak semua orang berani menghadapi kenyataan bahwa jujur itu terkadang pahit untuk dirasakan.
Sebagai pengikut ajaran Kristus, mari kita belajar bersikap seperti Yohanes Pembabtis yang tidak pernah kuatir kehilangan popularitas karena menegakkan kejujuran. Bukankah berani jujur itu hebat? (Oka)

“Jujur itu mahal harganya. Karenanya hanya orang-orang hebat yang berani bersikap jujur.”
http://www.gkjw.web.id/berani-jujur-itu-hebat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar