Rabu, 11 April 2012

Bermata Tapi Tak Melihat


Bacaan : Lukas 24:13-35
Nats       : “… Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia…” (ayat 16)
KJ            : 357:1
Bermata tapi tak melihat
Bertelinga tapi tak mendengar
Berhati namun tak merasa
Bermulut tapi tak menyapa
Begitulah bunyi lirik lagu Bimbo yang berjudul “bermata tapi tak melihat”. Dalam kata lain bisa diartikan BUTA. Lagu diatas menceritakan bagaimana situasi kehidupan manusia terkini yang sebenarnya memiliki mata, namun seakan-akan tak tahu kebenaran. Situasi yang penuh kemunafikan dapat menjadikan mata seseorang tertutup bila melihat kebenaran. Apalagi jika ada cerita yang tak memiliki fakta, timbulah opini yang berujung pada sebuah GOSIP.
Murid Kristus pun pernah tertutup matanya. Akibat mereka membuka telinga terlalu lebar dan menutup hati. Mereka tak percaya bahwa Yesus telah bangkit dan menang atas kuasa maut. Para murid yang sebelumnya pernah menerima nubuat tentang kemenangan Anak Manusia atas kuasa maut, menjadi lupa akibat hiruk pikuk gossip yang tak menentu. Ketika Yesus membuka mata serta hati mereka, saat itulah kesadaran akan kuasa Tuhan atas maut baru disadari.
Mata kita pun sering tertutup oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Kemapanan dan pola hidup yang serbainstan (cepat dan mudah) terkadang membuat hati kita tak peka lagi, membuat mulut kita terkunci rapat untuk menyuarakan kebenaran. Terkadang kita dikalahkan oleh situasi carut marut kehidupan yang penuh ketidakpastian. Apabila itu terjadi, saatnya kita merenung untuk mencari Tuhan, agar mata, hati, telinga dan mulut kita dibukakan untuk kebenaran yang sejati. [Oka]
“Bukalah mata dan telinga. Kuatkan hati untuk membuka mulut, menyuarakan kebenaran sejati“
Sumber tulisan : gkjw.web.id

Selasa, 10 April 2012

Noleh Dhateng Sesami


Waosan      : Yokanan 20:11-18
Pamuji       : KPK. 137

Nats              : “Maryam banjur minger sarta munjuk ing basa Ibrani “Rabuni” Jarwane “Guru”…(ay 16)
Tembung “mengo utawi noleh” ing ayat 16, saking tembung Yunani “strepho” minangka tembung ingkang wigati wonten Kitab Suci. Sepisan, nedahaken obahing raga. Kalih, ugi nedahaken obahing gesang. Wonten ewah-ewahan ingkang cetha ing salebeting dimensi (peranganing) gesang. Maria mengo sejatosipun ugi nedahaken anggenipun magertos kanthi sanget ing gesangipun. Ing 1 Tesalonika 1:9 nedahaken teges ingkang sanget saking “strepho” menika, “sabab wong-wong iku dhewe kang wis padha nyritaake bab aku sakanca, kepriye anggonmu padha ngrengkuh aku kabeh, sarta anggonmu padha ninggal (strepho) brahala-brahala banjur mratobat marang Allah tuwin leladi marang panjenengane kang gesang lan sejati. Mengo utawi noleh boten ateges namung geser utawi menggok. Ananging malih 180 derajat. Sawijining lampah “U Turn” (putar balik) sawijinging “Transformasi” (perubahan) gesang. Punika PASKAH.
Para sedherek, Paskah ateges bilih Gusti Allah noleh lan mirsani panjenengan sacara pribadi kagem jagad punika. Gusti ngarsakaken lan kangen kita noleh, krana Gusti sampun ndangu kita, sampun noleh dhateng kita. Menapa ingkang saged kita toleh kangge mangsuli pawartos PASKAH? Noleh krana sedhih lan kuciwa utawi noleh krana karosan lan suka bingahing manah? Swawi kita tepangi Gusti Yesus ingkang wungu punika. Boten prelu malih Gusti Yesus dipun salib kaping kalih, supados kita kedah ngalami kados dene Maria Magdalena. Gusti Yesus sampun seda lan wungu sepisan kangge selaminipun. Samangke wekdalipun kangge kita sumadya dipun purugi Gusti Yesus. Swawi kita mengo, noleh dhateng pangajeng-ajeng. Sumangga kita ndadosaken Kekristenan menika sanes agami ingkang egois. Sampun wekdalipun ugi mengo lan noleh dhateng sesami kita. Srana noleh dhateng sesamining titah, kita pinanggih kaliyan Sang Kristus ingkang sampun wungu. (Krispong)
“Mangga noleh lan aweweh; lamun aweweh mesthi tinoleh dening Gusti”
Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber gambar : 3.bp.blogspot.com

Senin, 09 April 2012

Kebenaran Tidak Bernilai Rupiah


Bacaan : Matius 28:8-15
Nats       : “Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu.” (ayat 12)
KJ            : 393:1
Ada seorang mahasiswa, melalui temannya yang saya kenal baik, meminta saya untuk mengerjakan skripsinya dengan imbalan uang. Dan saya menolaknya dengan tegas. Dalam kehidupan nyata orang-orang bisa memperjual-belikan kebenaran.
Ketika para tentara penjaga kubur Tuhan Yesus mengetahui bahwa Tuhan Yesus telah bangkit, para imam kepala membungkam mereka dengan sejumlah uang supaya berbohong bahwa Tuhan Yesus bangkit dari kematian dan meminta mereka mengatakan bahwa jenazahNya dicuri oleh para muridNya. Jika mereka disalahkan atas hilangnya jenazah itu, para imam kepala akan berbicara dengan atasan mereka. Di sini terjadi mekanisme kebohongan yang melibatkan banyak orang: bawahan dan atasan. Jadi jual-beli kebenaran itu tidak hanya dilakukan oleh orang-orang besar yang berkuasa saja tetapi juga melibatkan orang-orang kecil di bawahnya.
Hal kebohongan seperti ini bisa terjadi pada diri kita dengan iming-iming sejumlah uang atau materi. Uang bisa membuat kita untuk lepas kontrol dari ajaran Tuhan.
Kebenaran Allah telah ada dan akan tetaap ada dalam hati kita jika kita taat dan setia.  Semua tergantung pada kita, apakah kita akan tetap menjaga kebenaran itu atau malah menjualnya demi sejumlah uang. Kesulitan keuangan dan keinginan untuk memiliki lebih mudah jadi alasan, demi uang, melakukan kebohongan-kebohongan yang dianggap sebagai sebuah kebohongan kecil saja. Tetapi tidak tahukah bahwa Tuhan sudah menyediakan berlimpah-limpah berkat bagi umat-Nya yang setia jauh melebihi sejumlah uang yang akan kita dapatkan dari hasil menjual kebenaran?! Tetaplah berjalan lurus, meskipun kelihatannya kehidupan kita kekurangan. Tuhan akan menguatkan kita dan melepaskan kita dari pencobaan itu. Sehingga kita akhirnya bisa menikmati berkat-berkat yang telah Dia janjikan. [Gih]
“Kebenaran tidak tunduk kepada uang dan kekuasaan.”
Sumber Tulisan: gkjw.web.id
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Jumat, 06 April 2012

The End



Waosan               : Yokanan 19: 28 – 30

Pamuji                  : KPK 263

Nats: “…. Gusti Yesus tumuli ngandika:”Wus rampung!”(ay 30)
Saben mirsani film utawi sinetron tamtu yen sampun kaserat TAMAT utawi SELESAI utawi THE END menika mratandani bilih film utawi sinetron menika cariosipun rampung. Ananging tembung “WUS RAMPUNG” kados dawuh pangandikanipun Gusti Yesus ing kajeng salib menapa ugi sampun rampung cariosipun Gusti Yesus? Yen menika mratandhani cariosipun Gusti Yesus sampun rampung tamtu pamirsa kuciwa awit pungkasanipun boten sae. Umpami Gusti Yesus menika jagoanipun tamtu pungkasanipun carios jagoanipun seda. Tamtu dawuhipun Gusti Yesus “WUS RAMPUNG” menika boten makaten. Lajeng kados pundi tegesipun?
Sepisan, “wus rampung” ngemu teges bilih ayahanipun Gusti Yesus nebus dosa-dosanipun manungsa menika sampun rampun. Puputing kasetyanipun Gusti Yesus anggenipun netepi timbalanipun Sang Rama pancen sampun rampung. Anggenipun paring pawartos pamratobat srana mukjijat lan pratandhanipun swarga pancen sampun rampung. Samangke kantun dhateng manungsa, menapa purun pitados dhateng Gusti Yesus menapa nyingkur Gusti Yesus?
Kalih, sadaya dayaning dosa inggih menika pati, kasedihan, was sumelang lan sesakit sampun rampung dipun tebus dening Gusti Yesus. Kanthi makaten gesanging tiyang pitados sampun kawengku ing gesang enggal ingkang kebak pangajeng-ajeng. Gesang kita ingkang rumaos kemrungsung, ngoyo-oyo lan rekasa samangke sampun dipun rampungi dening Gusti Yesus. Jer, kita pitados bilih sedanipun Gusti menika pancen ngrampungi sedaya momotaning gesang kita. Kados pundi samangke? Yen ngantos samangke kita taksih nyanggi maneka warni momodaning gesang, sumangga kita pasrahaken dhateng Gusti Yesus ing kajeng salib, supados dipun rampungi. Ingkang baken Gusti dawuh “WUS RAMPUNG/TAMAT/SELESAI/The END” (to2k)
“Srana sedaniPun ing kajeng salib, Gusti Yesus ngrampungi sadaya momotaning gesang.”
Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber gambar : kuasadoa.com

Kamis, 05 April 2012

Merendahkan Diri Seperti Kristus


Bacaan : Yohanes 13:1-15
Nats       : “…. Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya” (ayat 5)
KJ            : 158:1
Sikap yang sering dijumpai oleh sebagian pemimpin yang bisa kita amati adalah ia ingin diperlakukan dengan istimewa. Dibukakan pintu mobil oleh sopir, semua keperluan disiapkan, orang yang lewat di depannya mambungkuk memberi hormat, makanan diantar ke ruang kerjanya, semua tinggal perintah saja. Ya, itulah sifat dasar manusia yang mudah mencapai kesombongan ketika kenyamanan hidup sudah didapatkan.
Sungguh jauh berbeda dengan teladan kepemimpinan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dengan segala kemuliaanNya, Tuhan Yesus rela merendahkan diri menjadi sama dengan manusia. Tidak hanya sebatas itu, Tuhan Yesus pun mau melayani para muridNya. Pembasuhan kaki yang dilakukan Tuhan Yesus kepada para muridNya adalah bentuk pelayanan sejati yang penuh dengan kerendahan hati. Jika pemimpin dunia ini berlomba mengejar hormat dari semua orang, Tuhan Yesus memberikan teladan sebagai pemimpin yang mau memberi hormat bagi orang yang dipimpinNya.
Besok, kita akan masuk dalam perjamuan kudus Jumat Agung. Melalui peringatan akan kematian Tuhan Yesus di kayu salib ini, patutlah kita semakin diperlengkapi untuk mampu menjadi pribadi yang rendah hati seperti Tuhan Yesus. Penebusan dosa manusia bukan hanya untuk menyelamatkan kehidupan manusia, tetapi juga untuk mengubah hati manusia supaya memiliki kerendahan hati seperti Tuhan Yesus. Orang yang rendah hati selalu rela berkorban untuk orang lain, termasuk mengorbankan gengsinya. [RH]
“Orang yang tinggi hati, merendahkan korban Kristus; orang yang menerima korban Kristus selalu merendahkan diri”
Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber Gambar : 4.bp.blogspot.com

Rabu, 04 April 2012

Nyade Kapitadosan = Bucal Kawilujengan


Waosan               : Mateus 26 : 14 – 25
Pamuji                  : KPK 55

Nats: “Kula badhe kaparingan punapa…. (ay: 15)
Dados pandherekipun Gusti ing negari Indonesia sanes bab ingkang gampil. Kathah panggodha lan pepalang saha tantangan ingkang ndadosaken sedayanipun karaos awrat. Wujuding panggodha-panggodha punika maneka warni, wiwit saking himpitan sacara fisik ngantos himpitan sacara psikis. Wiwit saking karir panyambut damel ngantos himpitan ekonomi. Saking himpitan-himpitan punika, tiyang pitados saged nilaraken kapitadosanipun murih pikantuk “kaluberan” lan “kanikmatan” ing gesang punika. Ukara ingkang pas lan cocok kaliyan kawontenan punika inggih punika “NYADE KAPITADOSAN MURIH LUBERING KABEKTAHAN GESANG”.  Sampun kathah sanget conto-conto ingkang saged kita tingali ing pigesangan punika magepokan kaliyan nilaraken kapitadosan namung karana iming-iming kaluberan lan kanikmataning ndonya.
Boten tebih kaliyan lelakonipun Yudas Iskariot salah satunggaling sekabatipun Gusti Yesus. Namung karana 30 keping perak Gusti Yesus kasade. Yudas Iskariot punika minangka kaca pangilo kagem tiyang-tiyang murtad ingkang nilaraken Gusti namung karana bandha kadonyan. Kita sadaya sami sumurup, tumrap kawontenan manungsa ingkang mekaten gesangipun tansah boten ayem lan boten tentrem. Awit Yudas Iskariot piyambak pungkasanipun, mungkasi gesangipun kanthi cara ingkang boten ngremenaken lan mrihatosaken sanget.
Pramila, sampun ngantos kita kapincut godhaning ndonya ingkang ketingal nengsemaken menika. Kawilujengan ingkang dipun cawisaken dening Gusti langkung aji tinimbang godhaning ndonya. Kawilujengan punika saged lestari langgeng namung wonten ing gesangipun tiyang-tiyang ingkang kiat, teguh lan setya dhumateng Panjenenganipun. Amin. [GaSa]
“Iman kapitadosan punika kuncining kori kawilujengan. Yen kunci punika kasade, korining kawilujengan boten badhe saged kawengakaken”
Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber gambar : gsja.org